Senin, 16 September 2013

Hal yang perlu dilakukan setelah membeli kamera dslr


Kamera yang pertama kali anda beli pasti terasa lebih spesial. Anda tentu akan banyak mengutak-atik kamera tersebut dan akan sering memotret dan menikmati hasilnya. Tapi sebelumlebih jauh mengeksplor kamera baru tersebut, sebaiknya ada beberapa hal berikut yang perlu dilakukan. Check this out!

1. Baca buku manual
Buku manual, atau mungkin dokumentasi dalam format PDF, sangat dianjurkan dibaca baik-baik sebelum kamera anda dipakai. Cari informasi mengenai panduan singkat, apa yang dilarang, bagaimana cara mengisi/ men-charger serta memasang baterai dan sebagainya. Pahami betul bagaimana pengaturan kamera, fungsi tombol-tombolnya, mode kamera dan bagaimana memaksimalkan fiturnya.

2. Siapkan kartu memori baru
Kadang sebagai bonus dari toko, kita diberi kartu memori secara cuma-cuma. Tapi untuk lebih aman dan terjamin, pastikan kita membeli kartu memori sendiri sesuai kebutuhan. Carilah yang asli, kapasitas tinggi (misal 16 GB) dan kecepatan tinggi (misal kelas 10). Dengan begitu kamera siap untuk dipakai memotret cepat dan merekam video tanpa masalah. Memori palsu atau tidak jelas bisa beresiko membuat kamera error, atau minimal foto-foto anda gagal disimpan.

3. Belilah aksesori dasar
Alokasikan sedikit dana untuk membeli aksesori dasar yang lumayan dibutuhkan, seperti tisu lensa, peniup debu dan tas kamera. Dengan demikian kamera akan selalu terlindung saat dibawa, dan selalu siap dibersihkan saat terkena noda atau debu. Hindari pakai tisu biasa yang banyak seratnya, tisu lensa bisa dibeli di toko online kacamata atau di toko kamera.

4. Investasikan sebuah Dry box atau kotak kedap udara
Idealnya menyimpan kamera bukan di tas, tapi di dry box. Di tas itu hanya saat kamera akan dibawa bepergian. Dry box dibutuhkan untuk menyimpan kamera dan lensanya, sehingga tidak berjamur akibat lembab. Bila dry box terlalu mahal, belilah kotak plastik kedap udara lalu masukkan silica gel atau serap air. Lensa yang berjamur akan sulit dibersihkan, dan bila nanti akan dijual harganya bakal jatuh. Saat di dalam dry box, lepaskan lensa dari kamera dan keluarkan juga baterainya.

5. Bekali pengetahuan dasar manajemen file foto
Foto-foto anda akan bertambah banyak setiap hari. Tidak mungkin semuanya hanya disimpan di kartu memori kan? Bagi yang awam dengan komputer, mulailah membiasakan mengerti manajemen file foto karena anda akan punya ribuan foto yang perlu disimpan. Buatlah alur kerja yang baik mulai dari proses pemindahan foto dari kartu memori ke komputer, pengaturan folder dan editing dasar (rename, resize, rotate, crop, enhance dan convert). Biasakan juga rutin melakukan backup ke DVD/hardsisk eksternal.
6. Mulai menyusun daftar belanja
Ini yang paling seru, sekaligus penuh racun, hehe… Banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan tiba-tiba jadi terasa perlu untuk dibeli. Cobalah untuk dipilah secara bijak mana dulu yang prioritas, misalnya :
  1. Lensa tambahan, bisa lensa fix yang murah (seperti 50mm f/1.8) atau lensa tele murah (seperti 55-200mm)
  2. Pengganti lensa kit, bila lensa kit kurang memuaskan bisa pertimbangkan lensa lain untuk jadi pengganti lensa kit (misal lensa 18-200mm, atau lensa bukaan besar seperti 17-50mm f/2.8)
  3.  Tripod, ini juga penting untuk memotret dengan stabil dan tidak goyang/blur
  4.  Flash eksternal, perlu untuk menambah kekuatan flash dan menghemat baterai kamera (dibanding memakai flash built-in)
  5.  Aneka filter (CPL, ND, atau setidaknya UV) sesuai kebutuhan
  6.  Baterai cadangan (apalagi baterai di kamera mirrorless lebih cepat terkuras)
Berkaitan dengan lensa, anda pun dapat bertanya pada berbagai pen-jual lensa kamera baik yang di online maupun offline. Semakin banyak informasi yang anda dapat, maka anda akan semakin mudah untuk menentukan keputusan yang terbaik setelah anda membeli kamera.

Aksesori yang wajib anda punya untuk kamera anda


Kamera pun bisa dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris, supaya dapat menambah kemampuannya serta menjaganya agar lebih awet. Sebaiknya saat akan membeli kamera, perlu menyediakan sejumlah dana untuk membeli aksesori yang paling diperlukan. Anda pun dapat menemukannya aksesori tersebut di berbagai toko online
Berikut ini daftar aksesori yang  perlu untuk dimiliki, dan menjadi prioritas utama dalam membeli aksesori,:
1. memory card : saat ini harga memori sudah amat murah sehingga tidak lagi relevan kalau kita hanya mengandalkan memori internal kamera, pilihlah setidaknya memori 1 GB seharga 50 ribu rupiah
2. pelindung LCD / anti gores : sesuaikan dengan ukuran LCD kamera anda, investasi murah yang sangat bermanfaat
3. baterai cadangan : bila kamera anda memakai baterai AA, sediakan satu set baterai cadangan yang bisa diisi ulang beserta chargernya
4. UV filter : mencegah elemen depan lensa terkena noda dan kotoran secara langsung, sesuaikan diameter filter dengan diameter lensa anda
5. Camera case : meski tampak tidak mutlak perlu, tapi tas kamera yang ukurannya sesuai dengan kamera anda akan memudahkan anda saat bepergian
6. silica gel : untuk mencegah lembab dan jamur, siapkan silica gel yang bisa disimpan di dry box, lemari atau tas kamera anda
7. peniup debu : tiupkan angin dari peniup debu ini ke sela-sela lensa, sensor dan bodi kamera untuk mengusir debu yang menempel, apalagi bila anda sering berganti lensa (pada kamera SLR).
Adapun aksesori yang lumayan wajib tapi bisa ditunda mengingat harganya yang cukup tinggi diantaranya :
  1. Tripod : bila anda jadikan tripod ini aksesori wajib, itu sangat baik mengingat kegunaannya yang amat perlu dalam memotret
  2.  Flash eksternal : perlu karena kekuatan lampu kilat pada kamera amat terbatas
  3.  Underwater case : supaya kamera bisa dipakai menyelam hingga kedalaman tertentu
  4.  Battery grip (DSLR) : untuk menambah daya dan keleluasaan memotret vertikal
  5.  Wide / tele conversion lens (non DSLR) : merubah fokal lensa pada kamera non DSLR supaya jadi lebih wide atau lebih tele *anda pun bisa bertanya pada pen-jual lensa canon ataupun nikon dll
  6.  Filter yang berpengaruh ke hasil foto : ND, CPL, close up, IR, dsb.

Minggu, 08 September 2013


Kamera apa saja bisa dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris, guna menambah kemampuannya serta menjaganya supaya lebih tahan lama dan terjaga. Sebaiknya saat akan membeli kamera, perlu menyediakan sejumlah dana untuk membeli aksesori yang paling diperlukan.

Berikut ini daftar aksesori yang  perlu untuk dimiliki, dan menjadi prioritas utama dalam membeli aksesori:
1. Memory card : saat ini harga memori sudah amat murah sehingga tidak lagi relevan kalau kita hanya mengandalkan memori internal kamera, pilihlah setidaknya memori 1 GB seharga 50 ribu rupiah
2. pelindung LCD / anti gores : sesuaikan dengan ukuran LCD kamera anda, investasi murah yang sangat bermanfaat
3. baterai cadangan : bila kamera anda memakai baterai AA, sediakan satu set baterai cadangan yang bisa diisi ulang beserta chargernya
4. UV filter : mencegah elemen depan lensa terkena noda dan kotoran secara langsung, sesuaikan diameter filter dengan diameter lensa anda
5. Camera case : meski tampak tidak mutlak perlu, tapi tas kamera yang ukurannya sesuai dengan kamera anda akan memudahkan anda saat bepergian
6. silica gel : untuk mencegah lembab dan jamur, siapkan silica gel yang bisa disimpan di dry box, lemari atau tas kamera anda
7. peniup debu : tiupkan angin dari peniup debu ini ke sela-sela lensa, sensor dan bodi kamera untuk mengusir debu yang menempel, apalagi bila anda sering berganti lensa (pada kamera DSLR).

Adapun aksesoria yang wajib kita punyai tapi bisa ditunda mengingat harganya yang cukup tinggi diantaranya :
  1. Tripod : bila anda jadikan tripod ini aksesori wajib, itu sangat baik mengingat kegunaannya yang amat perlu dalam memotret
  2.  Flash eksternal : perlu karena kekuatan lampu kilat pada kamera amat terbatas
  3.  Underwater case : supaya kamera bisa dipakai menyelam hingga kedalaman tertentu
  4.  Battery grip (DSLR) : untuk menambah daya dan keleluasaan memotret vertikal
  5.  Wide / tele conversion lens (non DSLR) : merubah fokal lensa pada kamera non DSLR supaya jadi lebih wide atau lebih tele
  6.  Filter yang berpengaruh ke hasil foto : ND, CPL, close up, IR, dsb.
Banyak sekarang yang men-jual kamera dan juga aksesorisnya bukan saja di toko-toko atau kios, anda bisa mencarinya di situs jual beli yang anda dapat temui di dunia maya. demikian tips-tips dari kami, semoga berguna.

Tips Bagaimana Mengetahui Lensa Tele

 
Apa yang anda bayangkan saat mendengar istilah lensa tele untuk kamera digital ? Mungkin anda akan terbayang pada lensa besar dan berat seperti yang biasa dipakai para profesional. Sebenarnya apa bedanya lensa tele di kamera saku dan kamera DSLR? Mengapa kamera saku bisa punya lensa yang demikian panjang namun ukurannya kecil, sementara lensa tele untuk kamera DSLR punya rentang fokal yang tampak biasa saja namun ukurannya (dan harganya) luar biasa?

 Apa saja kiat-kiat memotret memakai lensa tele? Simak semuanya di tulisan kali ini. Lensa tele dapat diartikan lensa yang memiliki panjang fokal yang mampu menjangkau bidang gambar yang jauh dari kamera. Banyak manfaatnya yang cukup jelas, kita bisa memotret sesuatu tanpa kita harus mendekat, seperti saat memotret konser, satwa liar atau event olah raga.

Selain itu, bila lensa wide punya angle-of-view lebar sehingga kita bisa memasukkan objek dan lingkungan sekitarnya, maka lensa tele justru sebaliknya. Dengan lensa tele, berkat kemampuan pembesaran lensanya, kita seakan dimudahkan untuk mengisolasi objek dari lingkungannya. Untuk itu lensa tele juga kadang digunakan sebagai lensa potret yang bisa membuat isolasi objek dengan latar blur. Pada dasarnya lensa tele itu memiliki panjang fokal tertentu (seperti 200mm, 300mm dsb) yang mewakili angle-of-view tertentu juga. Semakin panjang fokal lensanya maka semakin sempit area yang dicover dan semakin tinggi pula kemampuan pembesaran lensa tersebut. Namun kita lebih terbiasa dan lebih menyukai lensa tele masa kini yang mempunyai panjang fokal yang bervariasi, atau biasa disebut lensa tele zoom. Contohnya seperti lensa 70-200mm, 100-300mm atau 200-400mm. Untuk itu, istilah lensa tele yang kami pakai di artikel kali ini adalah lensa tele zoom / variabel fokal. Kamera saku memiliki lensa zoom yang dianggap mencukupi untuk mengakomodasi kebutuhan wide hingga tele sehari-hari. Sebuah kamera saku 3x zoom optik pun dianggap sudah mewakili tiga kebutuhan : wide (biasanya 28-35mm) untuk landscape dan arsitektur, normal (50mm) untuk potret dan tele (100mm atau lebih) untuk kebutuhan tele-fotografi.

Sebuah kamera saku modern bahkan punya kemampuan tele yang tinggi hingga 300mm dalam ukuran yang kompak dan kecil. Hal ini dimungkinkan karena pada kamera saku, sensor yang dipakai berukuran kecil sehingga tidak diperlukan lensa berdiameter besar. Maka itu lensa pada kamera saku bisa dibuat dengan diameter kecil dan otomatis ukurannya pun menjadi kecil. Selain itu lensa berukuran kecil lebih murah dalam proses produksinya sehingga wajar bila ada sebuah kamera saku yang berlensa 28-300mm dijual seharga 4 juta. Pada kamera DSLR, pilihan lensa tele bervariasi tergantung kebutuhan akan rentang tele-nya. Begitu banyak macam lensa tele di pasaran dengan spesifikasi dan harga yang amat bervariasi, membuat kita terkadang bingung saat ingin menjatuhkan pilihan. Untuk itu kali ini kita akan mengenali lebih jauh mengenai lensa tele dan tips pemakaiannya. Pertama dan utama, kenali dulu tipikal atau gaya memotret anda. Bila anda menyukai memotret sesuatu dari kejauhan, atau senang mengisolasi objek sehingga tiap orang yang melihat foto anda akan langsung tertuju pada objek tersebut, tentu lensa tele adalah pilihan yang tepat. Selanjutnya kenali dulu peralatan lensa yang sudah anda punyai. Adalah kurang tepat bila anda ingin memiliki lensa tele namun saat ini anda belum punya lensa apapun. Lensa tele umumnya dimiliki oleh seseorang yang minimal telah mempunyai sebuah lensa kit. Setelah itu tentukan apakah anda perlu lensa tele yang bukaan konstan atau cukup dengan bukaan variabel (bukaan diafragma yang tidak konstan). Anda tentu masih ingat, lensa zoom bukaan variabel artinya semakin lensa itu di-zoom maka bukaan maksimalnya akan semakin mengecil. Lensa semacam ini memungkinkan desain yang lebih mudah dan ukuran lebih kecil daripada lensa tele zoom bukaan konstan. Bagaimana kita bisa tahu jenis lensa manakah yang kita butuhkan? Idealnya, setiap lensa zoom itu memiliki bukaan konstan sehingga di posisi fokal berapapun si diafragma lensa akan mampu membuka dengan bukaan yang tetap sama. Ada dua macam lensa tele bukaan konstan yang biasa ditemui yaitu lensa bukaan konstan besar (f/2.8) yang mahal dan lensa bukaan konstan agak kecil (f/4) yang lebih terjangkau. Sebagai contoh adalah lensa Nikon 70-200mm f/2.8 dan lensa Canon 70-200mm f/4. Lensa dengan bukaan maksimum f/2.8 tentu mampu memasukkan cahaya lebih banyak sehingga memungkinkan pemakaian shutter yang lebih cepat dari lensa f/4. Selain itu lensa dengan bukaan lebih besar tentu bisa menghasilkan bokeh yang lebih indah. Namun lensa bukaan konstan punya dimensi yang besar dan bobot yang berat, karena kompleksnya susunan lensa di dalamnya. Untuk itu bagi yang merasa ‘keberatan’ dengan harga dan bobot dari lensa tele bukaan konstan, tersedia lensa bukaan variabel semisal 70-300mm f/4.5-5.6 yang menandakan bukaan maksimum di 70mm adalah f/4.5 dan saat 300mm mengecil ke f/5.6. Lensa jenis ini amat populer karena harganya yang relatif terjangkau dan ukurannya yang lebih kecil dibanding lensa bukaan konstan. Maka itu pilihan tentu lebih diarahkan pada budget yang ada dan seberapa mau kita memakai lensa yang besar dan berat. Ingat kalau pada fokal yang sama, lensa bukaan variabel pun memiliki jangkauan tele yang sama dengan lensa bukaan konstan. Tentu saja memiliki lensa bukaan variabel punya kompromi yang harus diterima, utamanya dalam hal kemampuan lensa memasukkan cahaya. Harap diingat kalau lensa tele sangat memerlukan shutter cepat untuk mengkompesasi hand-shake supaya hasil foto tidak blur. Teorinya adalah satu per panjang fokal lensa, misal anda memakai lensa tele 300mm maka anda perlu perlu speed setidaknya 1/300 detik untuk mencegah blur. Tidak mudah mendapat situasi ideal yang mampu membuat kamera bisa memakai speed 1/300 detik, kecuali anda berada di luar ruangan di saat siang hari bolong.

Dengan bukaan maksimal yang hanya berkisar di f/5.6 misalnya, di saat cahaya sedang kurang mencukupi, shutter kamera akan drop sehingga rentan terjadi blur (padahal bila memakai lensa f/2.8 maka shutter bisa dibuat lebih cepat). Untuk itu kompromi yang harus diterima saat memakai lensa bukaan variabel adalah lensa tersebut kurang cocok dipakai di low-light. Karena saat memakai lensa bukaan variabel, anda harus dapat banyak cahaya untuk bisa mendapat shutter tinggi (biasanya siang hari), atau anda boleh memaksakan memotret dengan cahaya kurang namun dengan resiko blur. Namun bagi pemilik lensa tele ekonomis dengan bukaan variabel tidak perlu berkecil hati. Setidaknya ada tiga hal yang bisa diupayakan untuk mengatasi dilema tersebut. Bahkan, tiga hal ini tidak ada salahnya juga dilakukan oleh mereka yang memakai lensa bukaan konstan, karena resiko blur karena hand-shake selalu ada meski memakai lensa apapun.

 1. Gunakan stabilizer. Inilah teknologi yang mampu mendeteksi getaran tangan dan mengkompensasinya sehingga kita bisa memotret dengan speed yang lebih rendah (hingga 3 stop). Maksudnya 3 stop begini : bila untuk mencegah blur anda sebelumnya perlu speed 1/200 detik tanpa IS, maka dengan IS anda bisa memotret tanpa blur dengan speed 1/100 detik (turun 1 stop) -> 1/50 detik (turun 2 stop)-> 1/25 detik (turun 3 stop). Stabilizer akan terasa manfaatnya terutama saat memakai lensa tele, dimana sebuah lensa 55-200mm tanpa stabilizer akan membuat pemakainya tidak PD saat memotret dengan speed dibawah 1/200 detik. Stabilizer di lensa (IS untuk Canon dan VR untuk Nikon) lebih efektif bila dibanding dengan stabilizer pada bodi (IS di Olympus, AS di Pentax dan Steady Shot di Sony) yang bekerja dengan menggerakkan sensor. Ingat juga kalau stabilizer hanya menolong mencegah blur karena getaran tangan dan bukan blur karena gerakan objek saat speed kurang tinggi.  

2.Gunakan ISO tinggi. Kamera DSLR punya kemampuan mengatasi noise yang baik di ISO tinggi, lalu mengapa takut memakai ISO tinggi? Kombinasi antara stabilizer dan ISO tinggi (bila perlu) sangat baik karena bisa didapat speed yang tinggi sehingga resiko blur dapat diminimalisir. Bila lensa tele anda (dan bodi DSLR anda) tidak terdapat sistem stabilizer, pemakaian ISO tinggi dapat diandalkan saat cahaya kurang mencukupi yang beresiko turunnya shutter speed.  

3.Gunakan tripod. Asesori satu ini bukan hanya milik pecinta landscape, namun juga pecinta tele-fotografi. Pertama, tripod akan mencegah getaran tangan saat memotret. Kedua, tripod bisa mencegah tangan menjadi pegal saat menopang lensa dengan berat beberapa kilogram. Dua manfaat sekaligus didapat dengan memakaitripod, sehingga hasil foto dengan lensa tele akan tajam dan menawan.  

Jadi, memiliki lensa tele ekonomis dengan bukaan variabel bukanlah sesuatu yang menghalangi kreativitas kita selagi tahu kekurangan dan trik menyiasatinya. Apalagi karena harganya yang murah, banyak orang yang sudah punya DSLR dengan lensa kit lantas membeli lensa tele ini sebagai lensa keduanya. Untuk mengetahui harga jenis lensa ini yaitu harga jual lensa canon atau lensa nikon dll anda dapat mengeceknya di berbagai situs jual beli online. Bila anda pemakai Canon / Nikon, hindari membeli lensa tele tanpa stabilizer meski harganya sedikit lebih murah. Namun untuk para profesional yang perlu kinerja lensa tele di segala kondisi pencahayaan, lensa bukaan konstan f/2.8 yang besar, berat dan mahal mutlak perlu karena mereka tidak boleh berkompromi dengan hal-hal diatas. Untuk para enthusiast, hobby fotografi dan semi-pro, bisa memakai lensa tele bukaan konstan f/4 yang lebih ekonomis dan lebih kecil dari lensa bukaan konstan f/2.8.