Setiap lensa ada kasta-kastanya, baik lensa zoom, telefoto dan fix. Posting ini memberikan sedikit panduan bagi yang pusing memilih lensa kamera Nikon (Nikkor) yang jumlahnya puluhan. Juga meringankan beban saya menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar lensa he he he.
Saya tidak membahas semua lensa disini, terutama lensa-lensa khusus (macro, tiltshift dll), tapi lensa-lensa umum seperti zoom dan fix cukup banyak yang saya tulis disini. Lensa lama juga saya tidak ulas karena kebanyakan tidak diproduksi lagi. Bagi yang penasaran tentang sejarah lensa Nikon dan kompatibiltasnya bisa dibaca di artikel ini.
Ada dua jenis lensa Nikkor berdasarkan diameternya, yaitu DX dan FX: Lensa DX (berdiameter lebih kecil dari lensa FX) sehingga hanya dapat mencakupi sensor berukuran APS-C. Sebagian besar kamera SLR Nikon yang beredar bersensor jenis APS-C. Lensa FX atau biasanya tidak disebutkan kode FX nya berdiameter lebih besar dari lensa DX sehingga dapat mencakupi sensor berukuran APS-C dan juga full frame yang ukuran fisiknya setara film 35mm.
Semua lensa dibawah ini AF-S artinya punya motor fokus internal (kecuali yang ditandai dengan kode AF). Sehingga cocok digunakan untuk kamera Nikon apa saja yang masih diproduksi sampai hari ini. Untuk harga jual kamera nikon, hanya perkiraan saja, untuk tepatnya periksa ke toko-toko kamera kesayangan Anda.
Lensa zoom standar (DX)
Nikkor 18-55mm f/3.5-5.6 VR : biasanya dipaketkan dengan kamera tingkat dasar (D3200, D5200). Rp 1.25 juta
Nikkor 18-105mm f/3.5-5.6 VR : biasanya dipaketkan dengan kamera tingkat menengah D90/D7000, lebih praktis dari 18-55mm karena rentang fokusnya lebih panjang, cocok untuk jalan-jalan. Rp 3 juta
Nikkor 16-85mm f/3.5-5.6 VR : Sedikit lebih lebar tapi lebih pendek, sisi lebarnya lumayan bagus untuk buat foto landscape yang agak dramatis. Kualitas foto dan ketajamannya setingkat diatas kedua lensa diatas. Kualitas lensa juga lebih kokoh. Rp 6 juta
Nikkor 17-55mm f/2.8 : Lensa DX terbaik, bodinya kokoh, autofokusnya gesit, tapi sayangnya belum ada VR/anti getarnya. Rp 13 juta
Rekomendasi: Nikkor 16-85mm VR bagus untuk yang mencari lensa jalan-jalan berkualitas yang seimbang dari segi ukuran, harga, kinerja. 17-55mm f/2.8 cocok untuk semipro dan pro. Masalah dengan 17-55mm adalah tidak ada anti getarnya jadi kalau foto di ruangan gelap agak rawan blur. Selain itu harganya cukup tinggi. Alternatifnya adalah Sigma 17-50mm f/2.8 OS atau Tamron 17-50mm f/2.8 VC.
Lensa zoom standar (FX)
Nikkor 24-85mm f/3.5-5.6 VR : Lensa kit yang dipaketkan dengan kamera Nikon D600. Ukurannya relatif kecil dan ringan dibandingkan lensa FX lainnya. Rp 5.2 juta
Nikkor 24-120mm f/4 VR : Lensa praktis untuk jalan-jalan, ketika dipasang di kamera full frame, sudut pandangnya mirip 16-85mm f/3.5-5.6 VR. Rp 12.5 juta
Nikkor 24-70mm f/2.8 : Lensa berkualitas tinggi, tajam, kokoh dan gesit, andalan profesional. Rp 17.3 juta
Rekomendasi: Kalau tidak keberatan dengan harga dan ukuran fisik lensa, 24-105mm dan 24-70mm akan memberikan kualitas foto yang sangat baik.
Lensa sapujagat (DX dan FX)
Nikkor 18-200mm f/3.5-5.6 VR II DX : Lensa sapujagat, praktis bagi orang-orang yang ingin lensa lebar dan tele menjadi satu, sehingga tidak repot ganti-ganti lensa. Harga yang mesti dibayar adalah ukuran lensa lebih besar dan kualitasnya standar-standar saja. Harga juga tidak begitu murah. Seri ke II ini menambahkan Lock/kunci untuk mencegah lensa merosot saat menghadap kebawah. Rp 8 juta
Nikkor 18-300mm f/3.5-5.6 VR DX : Lensa sapujagat dengan rentang yang lebih besar lagi, tapi makin berat dan mahal. Rp 9.5 juta
Nikkor 28-300mm f/3.5-5.6 VR FX : Memberikan sudut pandang yang sama dengan 18-200mm di kamera full frame, cocok untuk kamera full frame Nikon. Kualitasnya standar. Rp 10 juta
Rekomendasi: Saya jarang merekomendasikan lensa sapujagat karena kualitasnya standar, tapi bagi yang suka kepraktisan, saya sarankan 18-200mm VR II.
Lensa zoom lebar (DX & FX)
Nikkor 10-24mm f/3.5-4.5 VR DX : Lensa super lebar yang biasanya digunakan untuk foto pemandangan atau jurnalistik. Kualitasnya standar. Rp 9.15 juta
Nikkor 12-24mm f/4 VR DX : Lensa yang kualitas fotonya lebih bagus dan bukaannya konstan. Tapi harganya agak tinggi dibanding kualitasnya.Rp 9.75 juta
Nikkor 16-35mm f/4 VR FX : Lensa super lebar dibuat untuk kamera full frame Nikon. Cukup praktis dan bisa diandalkan. Bisa muat filter berukuran 77mm. Rp 13.3 juta
Nikkor 14-24mm f/2.8 FX : Lensa super lebar terbaik yang dimiliki Nikon. Ketajamanannya melampaui sebagian lensa zoom dan beberapa lensa fix. Karena sangat lebar, pengguna tidak dapat memakaikan filter. Rp 18 juta
Rekomendasi: Lensa zoom DX Nikon sepertinya kurang bergigi, kualitasnya biasa saja tapi harganya tinggi. Alternatifnya yaitu Tokina 11-16mm f/2.8 dan 12-28mm f/4. Keduanya memiliki performa dan kualitas badan lensa yang lebih bagus. Untuk kamera full frame, saya merekomendasikan 16-35mm f/4 VR. Fitur VR dan dapat menerima filter membuatnya menjadi lensa utama untuk travel photography.
Lensa zoom telefoto (DX)
Nikkor 55-200mm f/4-5.6 VR – Lensa telefoto murmer, kadang dipaketin dengan pembelian kamera. Rp 2.2 juta
Nikkor 55-300mm f/4.5-5.6 VR – Lensa telefoto yang sedikit lebih panjang. Rp 3 juta
Rekomendasi: Nikkor 55-200mm karena ringan, murah, berkualitas cukup baik. 55-300mm menurut saya agak besar dan berat, performa di rentang 200-300mm juga tidak begitu tajam. Bukaan di 55mm sedikit lebih kecil (f/4.5 vs f/4). Jangkauan/sudut pandang 200mm dan 300mm bedanya tidak terlalu banyak dalam praktiknya.
Lensa zoom telefoto (FX)
Nikkor AF 70-300mm f/4-5.6 – Lensa murmer dibawah 2 juta biasanya, tidak punya motor fokus dan kualitasnya standar. Rp 1.5 juta
Nikkor 70-300mm f/4.5-5.6 VR – Sudah punya motor AF dan kinerja autofokusnya bagus, kualitas foto juga diatas standar. Rp 5 juta
Nikkor 70-200mm f/4 VR – Kualitas fotonya bagus dan ukurannya tidak seberat yang f/2.8. Teknologi VRnya tercanggih, bisa meredam getaran hingga 5 stop (biasanya 3-4 stop). Rp 13 juta
Nikkor 70-200mm f/2.8 VR – Lensa paling top, memberikan kualitas foto dan AF yang sangat bagus, biasanya diandalkan oleh profesional. Rp 23.5 juta
Rekomendasi: Untuk lensa telefoto, rekomendasi saya jatuh ke 70-200mm f/4 ataupun f/2.8 karena kualitas foto yang dihasilkan sangat tajam dan bagus. Kinerja autofokus dan badan lensa juga berkualitas. 70-300mm saya rasa agak tanggung, tapi kalau dana terbatas dan ingin lensa yang kinerja autofokusnya lumayan, AF-S 70-300mm f/4.5-5.6 VR bisa diandalkan.
Lensa fixed/prime (tidak bisa zoom, kecuali pakai kaki)
Nikkor 28mm f/1.8 – Biasanya untuk pemandangan, street photography. Rp 6.75 juta
Nikkor 35mm f/1.8 DX – Biasanya untuk street photography, product, environmental portrait (foto manusia dan lingkungannya). Rp 2.2 juta
Nikkor AF 50mm f/1.8D – Lensa fix termurah Nikon, tapi tidak bisa dipakai di kamera tingkat dasar Nikon yang tidak memiliki motor fokus. Rp 1.4 juta
Nikkor 50mm f/1.8G – Tidak terlalu banyak berbeda dari 35mm, namun lebih cenderung untuk portrait. Rp 2.2 juta
Nikkor 85mm f/1.8 – Portrait close-up atau candid. Rp 5 juta
Nikkor 85mm f/1.4 – Portrait, cuma kualitasnya lebih bagus dan latar belakang lebih blur. Rp 16 juta
Nikkor 105mm f/2.8 Macro VR – Untuk menangkap detail subjek berukuran kecil, contoh serangga, bunga. Rp 8.2 juta
Nikkor 200mm f/2G VR – Olahraga lapangan, fashion. Rp. 39 juta
Nikkor 300mm f/2.8 VR – Olahraga lapangan, satwa liar, burung. Rp 45 juta
Rekomendasi: Kebanyakan lensa fix modern Nikon yang berkode AF-S kualitasnya sudah sangat baik dari segi kualitas maupun kinerja autofokusnya. Jadi beli yang manapun juga tidak masalah, tinggal sesuaikan dengan jarak fokus/focal length yang disukai. Jika anda ingin membeli produk seken-nya baik di toko biasa atau di toko online, anda dapat memperbandingkannya terlebih dahulu supaya tidak salah pilih.
Senin, 28 Oktober 2013
10 TIPS UNTUK PEMOTERTAN UNDERWATER
Diving/ menyelam sudah menjadi bagian sport yang sudah mulai banyak digemari oleh banyak orang di Indonesiabanyak kursus diving menjamur di Jakarta.Ditambah dengan adanya kamera slr menambah satu hobby baru bagi pencinta diving
Berikut tips2 nya:
1.Siapkan perlengkapan camera dan under water case dengan benar Lakukan check ing untuk terakir kalinya di boat pastikan semua fungsi kamera berjalan dengan baikterutama check baterainya dalam kondisi full
2. Lakukan sekenario pemotertan Sebaiknya divers sudah memiliki pengetahuan medan yang akan diselamijika belum tanyakan pada pemandu atau guide nya Perlu juga diketahui dalamnya dive sehingga sudah kita set iso , filter , kempampuan blitz sehingga sewaktu kita dive tidak perlu pusing lagi menentukan iso dan compensasi blitz
3. Tentukan lensa yang akan dipakai dan kamera yang dipakaiMakro lenswide lens atau standar lens Hal ini dikarenakan perbedaan casing underwater (kecuali divers mengunakan kamera poket yang sudah memiliki case sepertimju 3000, casio 3150, kamera canon d 10 (10 meter) untuk dua merek sebelumnya hanya untuk 3 meter.
4. Kemampuan Dive yang cukup baikHal ini diperlukan untuk melakukan pemotretan karena object yang diphoto adalah object bergerak , jangan sampai divers tidak bisa mengendalikan keseimbangan nya sehingga hasil foto akan kabur
5. Lakukan emergency exitLakukan pengecekan sebelum lebih dalam menyelam, lakukan check untuk beberapa kali jika case yang dipakai baru dan jangan melebihi kedalaman yang sudah di tentukan. Lakukan emergency exit jika ada kebocoran tetapi tetap perhatikan keselamatan dalam emergency exit
6. Lakukan pemotretan dengan pemantauan disekitar objet yang difotoLakukan observasi di daerah yang akan difoto untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan seperti 1. Gelombang atau arus yang deras 2. Slope atau karang disekeliling , jangan sampai waktu pemotretan makro kita hanya fokus dengan object yang difoto kita tidak tahu disekitarnya ada karang yang tajam atau coral yang rapuh sehingga jika tidak menjaga keseimbangan akan merusak karang yang membutuhan waktu puluhan tahun untuk bertumbuh hanya 10 cm saja
7. Lakukan pemotetan berulang ulang dengan berbagai angleHal ini dilakukan karena kita blm tentu menghasilkan photo yang baik , juga karena belum tentu kita menemukan object yang sama dengan kondisi yang sama
8. Fokus dimataFokuskan dimata untuk object ikan sehingga object akan terlihat lebih tajam dan fokus
9. Ingat Pasokan udaraInggat untuk tetap melihat pasokan udara , jangan sampai kita lupa untuk melihat pasokan udara karena terlalu asik memotret
10. Konvervasi lingkungan bawah lautIngat untuk menjaga lingkugkan bawah laut karena itu aset dunia
so have fun guys:)
Berikut tips2 nya:
1.Siapkan perlengkapan camera dan under water case dengan benar Lakukan check ing untuk terakir kalinya di boat pastikan semua fungsi kamera berjalan dengan baikterutama check baterainya dalam kondisi full
2. Lakukan sekenario pemotertan Sebaiknya divers sudah memiliki pengetahuan medan yang akan diselamijika belum tanyakan pada pemandu atau guide nya Perlu juga diketahui dalamnya dive sehingga sudah kita set iso , filter , kempampuan blitz sehingga sewaktu kita dive tidak perlu pusing lagi menentukan iso dan compensasi blitz
3. Tentukan lensa yang akan dipakai dan kamera yang dipakaiMakro lenswide lens atau standar lens Hal ini dikarenakan perbedaan casing underwater (kecuali divers mengunakan kamera poket yang sudah memiliki case sepertimju 3000, casio 3150, kamera canon d 10 (10 meter) untuk dua merek sebelumnya hanya untuk 3 meter.
4. Kemampuan Dive yang cukup baikHal ini diperlukan untuk melakukan pemotretan karena object yang diphoto adalah object bergerak , jangan sampai divers tidak bisa mengendalikan keseimbangan nya sehingga hasil foto akan kabur
5. Lakukan emergency exitLakukan pengecekan sebelum lebih dalam menyelam, lakukan check untuk beberapa kali jika case yang dipakai baru dan jangan melebihi kedalaman yang sudah di tentukan. Lakukan emergency exit jika ada kebocoran tetapi tetap perhatikan keselamatan dalam emergency exit
6. Lakukan pemotretan dengan pemantauan disekitar objet yang difotoLakukan observasi di daerah yang akan difoto untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan seperti 1. Gelombang atau arus yang deras 2. Slope atau karang disekeliling , jangan sampai waktu pemotretan makro kita hanya fokus dengan object yang difoto kita tidak tahu disekitarnya ada karang yang tajam atau coral yang rapuh sehingga jika tidak menjaga keseimbangan akan merusak karang yang membutuhan waktu puluhan tahun untuk bertumbuh hanya 10 cm saja
7. Lakukan pemotetan berulang ulang dengan berbagai angleHal ini dilakukan karena kita blm tentu menghasilkan photo yang baik , juga karena belum tentu kita menemukan object yang sama dengan kondisi yang sama
8. Fokus dimataFokuskan dimata untuk object ikan sehingga object akan terlihat lebih tajam dan fokus
9. Ingat Pasokan udaraInggat untuk tetap melihat pasokan udara , jangan sampai kita lupa untuk melihat pasokan udara karena terlalu asik memotret
10. Konvervasi lingkungan bawah lautIngat untuk menjaga lingkugkan bawah laut karena itu aset dunia
so have fun guys:)
Rabu, 23 Oktober 2013
Fotography, Just Do It!
“Fotografi adalah pikiran setiap komponen yang akan masuk ke plot
adegan.” seorang teman mengatakan kepada saya sebelum dia berangkat ke
sisi selatan Pegunungan Bukit Barisan dengan sepeda. Saya setuju, tapi
saya akan menambahkan bahwa kalimat tersebut hipo - nama frase
“fotografi adalah seni”. Artinya seni yang kita sering menganggapnya
sebagai refleksi dan apresiasi kita terhadap perjalanan kehidupan. Oleh
karena itu, saya sangat mendukung pernyataan para ahli yang mengklaim
bahwa seni adalah benar-benar relatif.
Suatu hari saya melakukan aktifitas menyenangkan untuk bepergian ke Green Canyon dengan beberapa teman. Saat itu saya baru saja membeli kamera canon. Dan kebetulan kamera saya adalah satu-satunya kamera yang memadai untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Saat itulah saya menyadari bahwa untuk menjadi seorang fotografer saya harus memiliki “BPho Degree” (bachelor of photography) sehingga orang tidak berani untuk mengatur kami ketika kita memotret. Ketika saya mengambil gambar untuk sebuah moment yang menurut saya baik, mereka selalu saja berkomentar, saat itulah saya mulai menyerang kegiatan memotret apapun untuk memecahkan sesuatu yang masih mengganjal pikiran dan akhirnya saya hanya memilih untuk mengambil video dari perjalanan kami.
Ketika kita belajar naik sepeda sampai mencapai langkah berikutnya untuk naik sepeda motor, kita akan merasa sebagai tahap pembelajaran. Kita masih dimanjakan dengan roda empat/tiga, untuk mengalami pasang surut ketika mulai menggunakan roda dua. Setelah kita mencapai kemajuan langkah naik, beberapa tahun kemudian kita mulai belajar mengendarai sepeda motor. Relevansi naik sepeda dan sepeda motor hanya dalam konsep dasar tertentu, keseimbangan roda dua, mengontrolnya dengan setang , dan mengatur kecepatan. Selanjutnya, ketika sudah bertahun-tahun akrab dengan sepeda motor, insting kita sering lebih terlibat daripada kesadaran mainstream. Pernah merasa sepeda motor dan pikiran mengembara dari Kutub Utara ke Johannesburg? Anda masih bertahan sampai tujuan meskipun konsentrasi tidak penuh. Yeah Instinct!
Formulasi adalah sebagai berikut :
1 . Awal membeli kamera slr, saya ingin tumbuh naluri fotografi saya. Tidak peduli baik atau buruk bagi pendapat orang lain. Namun dalam tahap itu , jika aku terlalu ditekan maka saya lebih baik berhenti “menembak” orang atau semakin banyak komentar itu menjadi diam.
2 . Teori fotografi sehingga tidak bisa dikesampingkan. Saya peroleh dari warisan ibu dari sebuah buku berjudul “Instructions for Taking” dicetak pada tahun 1977. Setidaknya saya belajar sedikit teori dan ketika telah memiliki kamera , saya berlatih sambil terus belajar teori tambahan. Dalam dunia teori akademis adalah formulasi hasil penelitian atau kejadian berulang-ulang dan mendekati konsistensi.
3 . Saya sangat senang untuk mengamati, memberikan apresiasi, meskipun menJudge foto adalah sama sekali tidak kompeten untuk melakukannya. Tapi saya harus membekali diri dengan dari beberapa referensi, dan semangat yang dapat saya menggambarkan sebagai berikut: untuk membuat foto ini sangat mudah , hanya perlu berpikir tentang waktu dan apa yang akan masuk ke dalam bingkai petak saya, dan lakukan!
4 . Dan fotografi adalah seni! Meskipun dengan tipe kamera jelek kita sudah melakukan seni karena seni tidak memiliki tolak ukur. Jika seseorang mengatakan bahwa gambar kita jelek, dan kemudian mengkonfirmasi kepadanya bahwa itu adalah refleksi dari peristiwa yang kita hadapi, kita membawa kamera, dan itu kemampuan fotografi kita. Ya, itu seni.
5 . Fotografi yang kompleks. Rumusnya adalah imajinasi + wawasan. Definisi Kembali ke teman saya tadi, ketika berpikir tentang komponen dalam sebuah foto maka peran itu adalah imajinasi + wawasan. Dan insting adalah jenis bahan bakar, dan katalis yang akan mempengaruhi hasil akhir.
6 . Fotografi tidak terbatas ruang dan waktu dan menjadi bagian dari kehidupan Anda. Seorang teman pernah berkata, ” Anda dapat mengambil gambar yang bagus karena itu adalah tempat yang bagus”. Saya datang dan kemudian memberikan resep berikut: Saya berjuang untuk hidup saya untuk pergi ke tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Saya ingin melakukan perjalanan dunia dan membuat lebih banyak foto. Ketika saya sedang berjuang untuk pergi ke suatu tempat, maka itu adalah beberapa persen dari kegiatan fotografi awal. Bandingkan dengan anda bahwa begitu-begitu saja? cita-cita dan impian rendah? bagaimana anda suka hidup dengan pitch yang lebih tinggi ?
7 . Selain seni, saya tidak menyangkal ada sesuatu tertentu sebagai ” fotografi ” sering diidentikkan sebagai ilmu fotografi. Tidak ada salahnya terjun ke dunia ini karena semua orang tidak memiliki kemampuan sama. Lakukan penilaian diri.
8 . Just do it !
Suatu hari saya melakukan aktifitas menyenangkan untuk bepergian ke Green Canyon dengan beberapa teman. Saat itu saya baru saja membeli kamera canon. Dan kebetulan kamera saya adalah satu-satunya kamera yang memadai untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Saat itulah saya menyadari bahwa untuk menjadi seorang fotografer saya harus memiliki “BPho Degree” (bachelor of photography) sehingga orang tidak berani untuk mengatur kami ketika kita memotret. Ketika saya mengambil gambar untuk sebuah moment yang menurut saya baik, mereka selalu saja berkomentar, saat itulah saya mulai menyerang kegiatan memotret apapun untuk memecahkan sesuatu yang masih mengganjal pikiran dan akhirnya saya hanya memilih untuk mengambil video dari perjalanan kami.
Ketika kita belajar naik sepeda sampai mencapai langkah berikutnya untuk naik sepeda motor, kita akan merasa sebagai tahap pembelajaran. Kita masih dimanjakan dengan roda empat/tiga, untuk mengalami pasang surut ketika mulai menggunakan roda dua. Setelah kita mencapai kemajuan langkah naik, beberapa tahun kemudian kita mulai belajar mengendarai sepeda motor. Relevansi naik sepeda dan sepeda motor hanya dalam konsep dasar tertentu, keseimbangan roda dua, mengontrolnya dengan setang , dan mengatur kecepatan. Selanjutnya, ketika sudah bertahun-tahun akrab dengan sepeda motor, insting kita sering lebih terlibat daripada kesadaran mainstream. Pernah merasa sepeda motor dan pikiran mengembara dari Kutub Utara ke Johannesburg? Anda masih bertahan sampai tujuan meskipun konsentrasi tidak penuh. Yeah Instinct!
Formulasi adalah sebagai berikut :
1 . Awal membeli kamera slr, saya ingin tumbuh naluri fotografi saya. Tidak peduli baik atau buruk bagi pendapat orang lain. Namun dalam tahap itu , jika aku terlalu ditekan maka saya lebih baik berhenti “menembak” orang atau semakin banyak komentar itu menjadi diam.
2 . Teori fotografi sehingga tidak bisa dikesampingkan. Saya peroleh dari warisan ibu dari sebuah buku berjudul “Instructions for Taking” dicetak pada tahun 1977. Setidaknya saya belajar sedikit teori dan ketika telah memiliki kamera , saya berlatih sambil terus belajar teori tambahan. Dalam dunia teori akademis adalah formulasi hasil penelitian atau kejadian berulang-ulang dan mendekati konsistensi.
3 . Saya sangat senang untuk mengamati, memberikan apresiasi, meskipun menJudge foto adalah sama sekali tidak kompeten untuk melakukannya. Tapi saya harus membekali diri dengan dari beberapa referensi, dan semangat yang dapat saya menggambarkan sebagai berikut: untuk membuat foto ini sangat mudah , hanya perlu berpikir tentang waktu dan apa yang akan masuk ke dalam bingkai petak saya, dan lakukan!
4 . Dan fotografi adalah seni! Meskipun dengan tipe kamera jelek kita sudah melakukan seni karena seni tidak memiliki tolak ukur. Jika seseorang mengatakan bahwa gambar kita jelek, dan kemudian mengkonfirmasi kepadanya bahwa itu adalah refleksi dari peristiwa yang kita hadapi, kita membawa kamera, dan itu kemampuan fotografi kita. Ya, itu seni.
5 . Fotografi yang kompleks. Rumusnya adalah imajinasi + wawasan. Definisi Kembali ke teman saya tadi, ketika berpikir tentang komponen dalam sebuah foto maka peran itu adalah imajinasi + wawasan. Dan insting adalah jenis bahan bakar, dan katalis yang akan mempengaruhi hasil akhir.
6 . Fotografi tidak terbatas ruang dan waktu dan menjadi bagian dari kehidupan Anda. Seorang teman pernah berkata, ” Anda dapat mengambil gambar yang bagus karena itu adalah tempat yang bagus”. Saya datang dan kemudian memberikan resep berikut: Saya berjuang untuk hidup saya untuk pergi ke tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Saya ingin melakukan perjalanan dunia dan membuat lebih banyak foto. Ketika saya sedang berjuang untuk pergi ke suatu tempat, maka itu adalah beberapa persen dari kegiatan fotografi awal. Bandingkan dengan anda bahwa begitu-begitu saja? cita-cita dan impian rendah? bagaimana anda suka hidup dengan pitch yang lebih tinggi ?
7 . Selain seni, saya tidak menyangkal ada sesuatu tertentu sebagai ” fotografi ” sering diidentikkan sebagai ilmu fotografi. Tidak ada salahnya terjun ke dunia ini karena semua orang tidak memiliki kemampuan sama. Lakukan penilaian diri.
8 . Just do it !
Tahukah anda tentang Still Photography?
Pernahkah mendengar profesi seorang Still Photographer? Saya pikir, mungkin hanya sebagian orang saja yang tahu. Senin, 14 November lalu, Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) yang dikenal sebagai komunitas belajar fotografi gratis untuk rakyat mengadakan sharing seputar Still Photography bersama Syamsul Hadi. Selama sesi pembahasan dan presentasi, dia begitu antusias menjelaskan apa itu Still Photo yang mungkin masih awam di telinga kita.
Sebagai seorang yang menggeluti profesi still photographer selama bertahun-tahun, membuat Hadi bisa dengan lugas menceritakan seluk beluk pekerjaan yang dia tekuni.
Di dalam proses pembuatan film, tentu kita mengenal profesi seperti sutradara, produser, make up artist, lighting, dan sebagainya. Namun, profesi yang dipilih Hadi ini jarang ada orang yang tahu. Karya para still photographer biasanya dipublikasikan dalam bentuk buku yang memuat photo story atau behind the scene dari film itu, poster film yang terpampang di bioskop, iklan film di media massa, sebagai foto di website resmi film, bahkan merambah hingga dikemas dalam bentuk merchandise seperti mug, kaos, dan gantungan kunci. Syamsul Hadi adalah salah satu still photographer yang sudah menangani beberapa produksi film baik berskala lokal maupun internasional. Salah satu karyanya yang telah dibukukan adalah film Berbagi Suami. Dalam menjalankan pekerjaannya, Hadi tetap mengutamakan prinsip selektif dalam memilih film yang akan dia garap. Banyak produser menawarinya menggarap film bergenre esek-esek. Namun, dengan tegas ditolaknya. Dia sadar bahwa dirinya sudah berkeluarga dan memiliki anak istri. Tentunya dia tidak ingin keluarganya menilai negatif jika dirinya menerima tawaran tersebut.
Pengalaman suka duka jelas mewarnai setiap jengkal pekerjaannya. Pernah ia terlibat dalam pembuatan film berjudul Lastri dibintangi Marcella Zalianty yang akhirnya batal tayang. Apa boleh buat, hal itu harus diterimanya secara ikhlas. Melihat profesinya tidak bisa dibilang sebagai profesi tunggal, dia lantas melebarkan sayap usahanya dalam bentuk usaha wedding photography dan usaha konveksi. Hadi sempat beberapa kali berucap, penghasilan sebagai still photographer tidak banyak. Namun, passion dia memang berada di bidang itu. Dan dia yakin, jika segala sesuatunya ditekuni, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Selama enam tahun terakhir ini, Hadi mulai dibantu oleh dua orang asisten. Kedua asisten itu tidak melakukan aktivitas memotret, tetapi mereka tetap harus paham mengenai fotografi. Asisten pertama mengurusi peralatan, asisten kedua bertugas menyimpan data. Kehadiran asisten sangat membantu Hadi dalam pekerjaannya, karena dalam satu hari pemotretan di lokasi film, Hadi bisa memakai 2-3 buah kamera dan membutuhkan peralatan banyak tentunya. Hadi bercerita ketika menjalani profesinya, dia sempat beberapa kali mengalami kendala. Kendala itu bisa datang dari pihak kru film maupun pemain film itu sendiri. Ada artis yang susah diajak kerjasama. Kru film pun kadang bahkan merasa terganggu dengan kehadiran Hadi, karena boomer terlalu sensitif berakibat suara jepretan kamera masuk sound. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya dalam bekerja. Maka dari itu, Hadi menyarankan sebagai bagian dari pekerja film, still photographer harus memiliki kemampuan sosialisasi yang tinggi dan bisa melakukan tindakan persuasi secara baik dengan kru film bahkan para pemain filmnya. Sepintas, pekerjaan Hadi terkesan mudah. Namun, banyak hal yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar sebagai seorang still photographer. Hadi hanya diperbolehkan memotret ketika pemain film dalam posisi berlatih supaya tidak mengganggu konsentrasi para pemain. Namun, hal ini tidak serta merta membuat Hadi kehilangan kesempatan mengambil gambar. Ketika pemain sudah siap untuk diambil gambarnya, hak sepenuhnya memang berada di tangan sutradara. Selain itu, still photographer juga dilarang menyebarluaskan (upload) dan meng-copy foto yang diambil di lokasi selama proses syuting berlangsung kecuali seizin publishes. Jika hal itu sampai terjadi, sutradara berhak memutus kontrak kerja tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Bagi Hadi, hal terpenting dalam still photography adalah komposisi warna supaya foto yang dihasilkan paling tidak hampir sama dengan warna yang dihasilkan dari produksi film. Profesi ini juga menuntut si fotografer hafal teknik fotografi di luar kepala sehingga tidak ada istilah foto under atau over exposure. Hal ini akan sangat membantu karena fotografer dituntut bergerak cepat terutama ketika memotret adegan yang berlangsung sekejap seperti akting berkelahi. Hadi selalu menggunakan setingan manual untuk memotret. Setingan autofocus kadang juga dipakai. Dengan mobilitas dan frekuensi penggunaan kamera yang cenderung aktif dan berada di segala medan dan cuaca, membuat Hadi sangat intens memperhatikan kondisi kamera yang dipakainya itu. Pernah ada suatu kejadian ketika dia selesai memakai kamera untuk memotret produksi film selama dua bulan, teknisi kamera sampai mengatakan kalau kamera dipakai lebih dari jangka waktu itu, kemungkinan besar kamera sudah tidak akan bisa dipakai. Hal ini merupakan tantangan untuk para still photographer menjaga aset mereka. Budget yang tidak sedikit untuk menambah varian peralatan memotretnya juga tidak diperoleh Hadi secara mudah. Sedikit demi sedikit dari penghasilannya dia tabung untuk membeli peralatan itu. Still photographer membutuhkan berbagai jenis lensa untuk mengantisipasi tempat pengambilan lokasi syuting yang bisa berubah-ubah. Selain lensa, Hadi menganjurkan untuk memiliki alat seperti light meter, spot meter, dan colour meter. Alat-alat itu diperlukan ketika berhadapan dengan masalah pencahayaan. Hadi juga memberikan beberapa tips terkait dengan profesi ini. Still photographer harus membaca naskah film secara utuh agar nantinya bisa merancang konsep pemotretan. Kadang ada yang malas membaca naskah. Kondisi semacam ini akan menimbulkan kebingungan bagi still photographer sehingga hasil jepretannya tidak sama dengan yang diinginkan sutradara. Sebelum memotret, sebaiknya mendatangi lokasi lebih awal supaya bisa mencari ‘titik aman’ ketika memotret. Titik aman yang dimaksud disini adalah hal-hal teknis seperti ukuran ISO berapa yang akan digunakan di lokasi itu, sehingga nantinya saat persiapan dan syuting dilakukan tinggal memotret tanpa harus pusing memikirkan masalah teknis. Tips lain yang tak kalah penting adalah memasang tanda berupa lakban hitam atau apa pun yang menunjukkan posisi si fotografer ketika akan mengambil gambar. Hal ini penting, mengingat saat syuting, tentunya ada banyak kru film yang tersebar di berbagai sudut lokasi syuting dan ini akan memudahkan still photographer untuk menjalankan tugasnya supaya tidak mengganggu pekerjaan kru lain. Supaya memudahkan tugasnya, saya menyarankan still photographer bertindak cepat dan efisien. Dari sekian foto yang diambil, tentu tidak semuanya diserahkan pada produser. Foto-foto yang dianggap penting dan mewakili proses syuting saja yang diserahkan. Untuk itu, fotografer harus rajin membuat folder foto setiap hari. Kalau tidak, pekerjaan akan menumpuk belakangan. Selain itu, still photographer juga harus pintar mengatur suasana hati. Produksi film jelas memakan waktu yang cukup lama. Still photographer bergelut dengan pekerjaaan memotret sepanjang hari selama waktu syuting yang bahkan sampai berbulan-bulan.
Untuk menyiasati, saya berpesan bersikaplah profesional, dan tidak menghabiskan tenaga di awal-awal pengambilan gambar. Biasanya still photographer yang masih amatir terlalu bersemangat di awal syuting dan merasa kehabisan tenaga saat mendekati hari terakhir syuting. Mereka harus memiliki kemampuan mengolah suasana hati supaya tidak cepat bosan. Bagian yang lumayan sulit ketika menjalankan pekerjaannya adalah memotret departemen artistik dan wardrobe.
Kedua departemen itu paling sulit diambil karena tidak berada di lokasi syuting. Keberadaan mereka terpisah dengan kru film yang lain. Untuk menyiasatinya, Hadi langsung mendatangi ruang make up dan mencuri waktu selama masih ada kesempatan untuk memotet. Di akhir sesi tanya jawab, Hadi berpesan bahwa jika ingin serius menggeluti profesi sebagai still photographer, seseorang harus memiliki semangat juang tinggi. Melihat kondisi ketika kru film sudah selesai bekerja dan bisa santai, Hadi masih harus mengolah dan mengedit foto untuk dimasukkan ke dalam folder yang nantinya akan ditujukan kepada produser untuk dipilih yang terbaik dari sekian banyak foto. Profesi yang melelahkan sekaligus menantang bukan. Anda tertarik?
Di dalam proses pembuatan film, tentu kita mengenal profesi seperti sutradara, produser, make up artist, lighting, dan sebagainya. Namun, profesi yang dipilih Hadi ini jarang ada orang yang tahu. Karya para still photographer biasanya dipublikasikan dalam bentuk buku yang memuat photo story atau behind the scene dari film itu, poster film yang terpampang di bioskop, iklan film di media massa, sebagai foto di website resmi film, bahkan merambah hingga dikemas dalam bentuk merchandise seperti mug, kaos, dan gantungan kunci. Syamsul Hadi adalah salah satu still photographer yang sudah menangani beberapa produksi film baik berskala lokal maupun internasional. Salah satu karyanya yang telah dibukukan adalah film Berbagi Suami. Dalam menjalankan pekerjaannya, Hadi tetap mengutamakan prinsip selektif dalam memilih film yang akan dia garap. Banyak produser menawarinya menggarap film bergenre esek-esek. Namun, dengan tegas ditolaknya. Dia sadar bahwa dirinya sudah berkeluarga dan memiliki anak istri. Tentunya dia tidak ingin keluarganya menilai negatif jika dirinya menerima tawaran tersebut.
Pengalaman suka duka jelas mewarnai setiap jengkal pekerjaannya. Pernah ia terlibat dalam pembuatan film berjudul Lastri dibintangi Marcella Zalianty yang akhirnya batal tayang. Apa boleh buat, hal itu harus diterimanya secara ikhlas. Melihat profesinya tidak bisa dibilang sebagai profesi tunggal, dia lantas melebarkan sayap usahanya dalam bentuk usaha wedding photography dan usaha konveksi. Hadi sempat beberapa kali berucap, penghasilan sebagai still photographer tidak banyak. Namun, passion dia memang berada di bidang itu. Dan dia yakin, jika segala sesuatunya ditekuni, maka akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Selama enam tahun terakhir ini, Hadi mulai dibantu oleh dua orang asisten. Kedua asisten itu tidak melakukan aktivitas memotret, tetapi mereka tetap harus paham mengenai fotografi. Asisten pertama mengurusi peralatan, asisten kedua bertugas menyimpan data. Kehadiran asisten sangat membantu Hadi dalam pekerjaannya, karena dalam satu hari pemotretan di lokasi film, Hadi bisa memakai 2-3 buah kamera dan membutuhkan peralatan banyak tentunya. Hadi bercerita ketika menjalani profesinya, dia sempat beberapa kali mengalami kendala. Kendala itu bisa datang dari pihak kru film maupun pemain film itu sendiri. Ada artis yang susah diajak kerjasama. Kru film pun kadang bahkan merasa terganggu dengan kehadiran Hadi, karena boomer terlalu sensitif berakibat suara jepretan kamera masuk sound. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya dalam bekerja. Maka dari itu, Hadi menyarankan sebagai bagian dari pekerja film, still photographer harus memiliki kemampuan sosialisasi yang tinggi dan bisa melakukan tindakan persuasi secara baik dengan kru film bahkan para pemain filmnya. Sepintas, pekerjaan Hadi terkesan mudah. Namun, banyak hal yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar sebagai seorang still photographer. Hadi hanya diperbolehkan memotret ketika pemain film dalam posisi berlatih supaya tidak mengganggu konsentrasi para pemain. Namun, hal ini tidak serta merta membuat Hadi kehilangan kesempatan mengambil gambar. Ketika pemain sudah siap untuk diambil gambarnya, hak sepenuhnya memang berada di tangan sutradara. Selain itu, still photographer juga dilarang menyebarluaskan (upload) dan meng-copy foto yang diambil di lokasi selama proses syuting berlangsung kecuali seizin publishes. Jika hal itu sampai terjadi, sutradara berhak memutus kontrak kerja tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Bagi Hadi, hal terpenting dalam still photography adalah komposisi warna supaya foto yang dihasilkan paling tidak hampir sama dengan warna yang dihasilkan dari produksi film. Profesi ini juga menuntut si fotografer hafal teknik fotografi di luar kepala sehingga tidak ada istilah foto under atau over exposure. Hal ini akan sangat membantu karena fotografer dituntut bergerak cepat terutama ketika memotret adegan yang berlangsung sekejap seperti akting berkelahi. Hadi selalu menggunakan setingan manual untuk memotret. Setingan autofocus kadang juga dipakai. Dengan mobilitas dan frekuensi penggunaan kamera yang cenderung aktif dan berada di segala medan dan cuaca, membuat Hadi sangat intens memperhatikan kondisi kamera yang dipakainya itu. Pernah ada suatu kejadian ketika dia selesai memakai kamera untuk memotret produksi film selama dua bulan, teknisi kamera sampai mengatakan kalau kamera dipakai lebih dari jangka waktu itu, kemungkinan besar kamera sudah tidak akan bisa dipakai. Hal ini merupakan tantangan untuk para still photographer menjaga aset mereka. Budget yang tidak sedikit untuk menambah varian peralatan memotretnya juga tidak diperoleh Hadi secara mudah. Sedikit demi sedikit dari penghasilannya dia tabung untuk membeli peralatan itu. Still photographer membutuhkan berbagai jenis lensa untuk mengantisipasi tempat pengambilan lokasi syuting yang bisa berubah-ubah. Selain lensa, Hadi menganjurkan untuk memiliki alat seperti light meter, spot meter, dan colour meter. Alat-alat itu diperlukan ketika berhadapan dengan masalah pencahayaan. Hadi juga memberikan beberapa tips terkait dengan profesi ini. Still photographer harus membaca naskah film secara utuh agar nantinya bisa merancang konsep pemotretan. Kadang ada yang malas membaca naskah. Kondisi semacam ini akan menimbulkan kebingungan bagi still photographer sehingga hasil jepretannya tidak sama dengan yang diinginkan sutradara. Sebelum memotret, sebaiknya mendatangi lokasi lebih awal supaya bisa mencari ‘titik aman’ ketika memotret. Titik aman yang dimaksud disini adalah hal-hal teknis seperti ukuran ISO berapa yang akan digunakan di lokasi itu, sehingga nantinya saat persiapan dan syuting dilakukan tinggal memotret tanpa harus pusing memikirkan masalah teknis. Tips lain yang tak kalah penting adalah memasang tanda berupa lakban hitam atau apa pun yang menunjukkan posisi si fotografer ketika akan mengambil gambar. Hal ini penting, mengingat saat syuting, tentunya ada banyak kru film yang tersebar di berbagai sudut lokasi syuting dan ini akan memudahkan still photographer untuk menjalankan tugasnya supaya tidak mengganggu pekerjaan kru lain. Supaya memudahkan tugasnya, saya menyarankan still photographer bertindak cepat dan efisien. Dari sekian foto yang diambil, tentu tidak semuanya diserahkan pada produser. Foto-foto yang dianggap penting dan mewakili proses syuting saja yang diserahkan. Untuk itu, fotografer harus rajin membuat folder foto setiap hari. Kalau tidak, pekerjaan akan menumpuk belakangan. Selain itu, still photographer juga harus pintar mengatur suasana hati. Produksi film jelas memakan waktu yang cukup lama. Still photographer bergelut dengan pekerjaaan memotret sepanjang hari selama waktu syuting yang bahkan sampai berbulan-bulan.
Untuk menyiasati, saya berpesan bersikaplah profesional, dan tidak menghabiskan tenaga di awal-awal pengambilan gambar. Biasanya still photographer yang masih amatir terlalu bersemangat di awal syuting dan merasa kehabisan tenaga saat mendekati hari terakhir syuting. Mereka harus memiliki kemampuan mengolah suasana hati supaya tidak cepat bosan. Bagian yang lumayan sulit ketika menjalankan pekerjaannya adalah memotret departemen artistik dan wardrobe.
Kedua departemen itu paling sulit diambil karena tidak berada di lokasi syuting. Keberadaan mereka terpisah dengan kru film yang lain. Untuk menyiasatinya, Hadi langsung mendatangi ruang make up dan mencuri waktu selama masih ada kesempatan untuk memotet. Di akhir sesi tanya jawab, Hadi berpesan bahwa jika ingin serius menggeluti profesi sebagai still photographer, seseorang harus memiliki semangat juang tinggi. Melihat kondisi ketika kru film sudah selesai bekerja dan bisa santai, Hadi masih harus mengolah dan mengedit foto untuk dimasukkan ke dalam folder yang nantinya akan ditujukan kepada produser untuk dipilih yang terbaik dari sekian banyak foto. Profesi yang melelahkan sekaligus menantang bukan. Anda tertarik?
Langganan:
Komentar (Atom)